ciao!

May 26

(via nabbillaa)

May 25

…..

Hariku terang, cerah tak  berawan.

Tawa nyaringku, tawa nyaringmu saling bersahutan.

Seolah saling merindukan.

Mulutku tak henti-hentinya berkicau.

Menceritakan hari-hariku saat kau tak ada.

Kau mendengarkan, kau merasakan, kau melihat.

Mata itu.. hangat, seperti matahari saat jam sembilan.

Dadaku menghangat, pelipisku menghangat.

Musim panas untukku sepertinya baru dimulai. 

May 21

Musim semi.

Tatapan matamu dingin, guratan wajahmu tegas.
Melihat wajahmu saja sudah seperti dihunus pedang es.
Merobek kulit perlahan lalu menusuk tulang belulang.
Suaramu juga sedingin matamu.
Tajam. Tegas. Tanpa fals.
Seolah suaramu dapat membekukan sekitar dengan seketika.
Ah, aku rindu saat musim semi tiba.
Saat kau menjadi mekar, cerah, bercahaya.
Hangat menjalar saat bersamamu kala itu.
Entah karena cuaca memang hangat atau karena hangat yg kau pancarkan.
Rindu. Sungguh rindu.
Hangatmu hilang sungguh.
Dilahap sang jagoan musimdingin.
Cair…. Cair…
Cepatlah segera cair.
Aku merindukanmu.
Musim semi.

Gaduh.

Ayo terus saja.
Bising itu bergemirisik.
Bising. Gaduh. Rancu.
Menghangatkan dadaku seketika.
Lalu ada gaduh lagi.
Ah, gaduh darimana pula.
Tidak. Kau harus berhenti.
Berhenti untuk apa. Memulai pun belum?
Argumen sang akal terlalu memuakan.
Rasionalis. Logis. Realitas.
Omong kosong dengan realitas, dadaku ikut berkoar.
Ah, trubulensi saja terus.
Muak.
Siapa yang harus didengar jikalau begini?
Semuanya terlalu gaduh.
Tenang, terus saja. Selama itu sungguh-sungguh.
Sesuatu membuat gaduh lagi.
Ah, keajaiban macam apa. Omong kosong dengan dunia dongeng!
Diam!
Gaduh mereka terhenti.
Diam.
Atau aku rajam kalian.

May 19

Random thoughts, The unspoken.: [Repost] Pendidikan Sebenarnya -

achyarnurandi:


Tulisan ini saya copy dari Mbak Retno Widyastuti, karena tulisan yang begitu menyentuh. Dan saya harap pendidikan kita bisa terarah ke pendidikan sebenarnya.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya memposting tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar di Fakultas…

(Source: indonesiamengajar.org)

May 10

Rindu.

ada yang salah denganku.

malamku berbeda walaupun kini cuaca tak berawan sama sekali.

sangat sejuk terasa, tidak terlalu dingin.

namun hatiku resah, seolah malam ini adalah malam terdingin yang pernah ada.

dan otakku terus menampilkan siluet wajahmu seperti roll film yang terus diputar.

lalu senyum tersungging dibibirku saat teringat wajahmu yang simetris itu.

teringat saat wajah simetris itu tersenyum, bahkan tertawa.

dan tiba-tiba membuatku terstimulasi dalam simulakrum.

sehingga aku kebingungan dengan hipotesisku.

wajahmu terlalu nyata begitu juga dengan suaramu. 

akhirnya kini aku sadar itu bukan fantasi belaka, lalu senyumku semakin mengembang.

semakin mengembang sehingga aku tidak yakin aku sedang tersenyum sekarang.

aku meringis dan kuyakin rinduku kini terlalu gigantis.

sadgenic:

Ada yang jatuh di hatiku. Sepertinya itu namamu.

Lalu dia pecah, remah huruf hurufnya merebak ke seluruh paru paru.

Meleleh merembes membasahi pori nodi.

Menjalar, melaju menuju kepala

Kemudian membelah diri berjuta-juta.

Masih. Masih membelah diri.

Tak bisa berhenti.

May 09

cuaca.

aku tertawa, lalu tawa renyahmu ikut bersahutan.

membuat cuacaku kian membaik. 

aku mendongeng, lalu kau dengarkan. 

sesekali dengan anggukan yang seolah mengerti dengan dongengku.

aku menceritakan hariku. cuaca burukku tadi siang. 

‘ada apa dengan cuacamu?’

‘tidak apa, hanya sedikit mendung, bahkan turun gerimis sebentar’

‘ada apa?coba ceritakan kepadaku’

lalu kau dengan senantiasa menenangkan aku.

mencoba membuat cuacaku kembali cerah.

sejujurnya, aku sudah cukup cerah tanpamu mencoba dahulu.

aku hanya ingin seperti ini.

duduklah lebih lama lagi aku mohon. 

maka cuaca cerahku akan kembali tanpa aku atau kamu yang memintanya.

?

mulutmu tak bisa berbicara, tapi otakmu terus mengeluarkan kata-kata begitu juga dengan hatimu. 

aku tak berdaya. 

terlalu banyak perasaan dan logika yang membuncah ruah.

membuat perasaan dan logika bersatu atau saling tolak menolak. 

aku terlalu bahagia

atau terlalu sedih?

bahagia untuk apa?

sedih untuk apa?

logika dan perasaan terus berdebat. terlalu sibuk malah.

aku hanya akan diam, menunggu siapa yang akan menjadi juaranya. 

Apr 30

“Kamu memilih menjadi tunanetra padahal mata kamu sehat. kamu tutup mata kamu sendiri. dan kesedihan kamu pelihara seperti orang mengobat luka dengan cuka bukan obat merah.” — Filosofi Kopi