hello. |
I'm dreaming all day long although my eyes aren't closed. |
Satu.
Tanpa perlu pikir panjang, aku memutuskan. Tanpa perlu banyak bicara aku mendengar. Tanpa perlu banyak melihat aku percaya. Tanpa perlu banyak merasa aku tersadar. Dan tanpa perlu ragu, aku jatuh hati..
Dua.
Aku hanya perlu mendengarkan suaranya yang mengurai kisah-kisah. Sesekali kami saling bertukar cerita atau bahkan hanya menjadi pendengar setia saja. Semua berlalu seakan waktu telah lenyap dan ruang hanya untuk kami berdua. Disaat itulah sesuatu berbisik dan berkata, duduklah lebih lama lagi aku mohon, dan semua pasti akan baik-baik saja.
Tiga.
Aku semakin rapuh, hendak kembali jatuh. Semakin rapuh hingga aku jatuh jauh—jauh sekali dari permukaan, membuatku tenggelam dan kesulitan bernapas. Disaat seperti inilah aku memiliki asa, memiliki harapan, andai saja ada seseorang yang membuatku kembali kepermukaan.
Empat.
Sudah terlalu lama sehingga asa ini hilang menjadi partikel-partikel tak kasat mata. Aku hanyut bersama asaku. Pengharapan yang salah, pengharapan yang hilang. Dunia bukan sekedar tentang harapan, tapi dunia berbicara tentang usaha manusia. Realistis.
Lima.
Suaraku tercekat, beradu dengan bunyi degup jantung yang semakin lama semakin tak karuan. Aku bergetar, bukan hendak menangis. Hanya saja aku kebingungan? Apa yang harus aku lakukan? Disaat itulah aku benci berkata-kata, aku benci mengapa harus bicara.
Enam.
Mendadak, aku tersenyum sesumringah pelangi sehabis hujan. Bahkan sesekali aku meratap, bagaimana bisa malam secerah ini walaupun sedang hujan? Bagaimana bisa malam secerah ini walaupun bintang dan bulan tidak muncul di langit hitam? Ada yang berubah menjadi sesuatu yang gigantis dan memaksa untuk keluar terhempas ke permukaan. Sesuatu yang kian menyesakkan dada, sesuatu yang membuat pijakan ini rasanya terlalu getas, sesuatu yang membuat hati ini berkata, selamat datang kembali, asa yang telah hilang.
Tujuh.
Itu semua kembali. Pada akhirnya, aku tetap sendiri. Dengan sesuatu yang kian menjadi, aku benci pada diriku sendiri. Mengapa ini semua harus terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri sesuatu yang belum aku mulai sama sekali? Dan disaat inilah aku harus berhenti meratapi. Disaat inilah aku harus menyadari, bahwa “sesuatu ini” bukan sekedar untuk memiliki.
Satu sampai tujuh. Pada akhirnya aku harus berlabuh. Haruskah aku berlabuh tepat di angka tujuh?
Malam hari saat hujan baru saja turun ke permukaan.
Aku menatap lekat-lekat air hujan yang membasahi kaca jendela. Alunan musik yang beradu dengan suara titik-titik hujan diluar sana membuat kesan malam ini adalah malam yang penuh drama, membuat hati semakin durjana.
Aku berkisah, aku merangkai kata. Kata-kata itu lahir begitu saja, bukan dari otak, bukan dari tetesan hujan, tetapi lahir murni dari perasaan. Aku terus saja mendongeng, seolah berkisah adalah kepiawaianku. Tetapi yang didongengi hanya diam, menatap bingung tetesan hujan yang mendarat sempurna di kaca jendela.
Lalu akhirnya suaraku hilang, aku diam. Aku biarkan ruangan ini tanpa frekuensi, hanya untuk mencari tahu, siapa tahu kami beresonansi. Detik-detik berlalu dan kami hanya termenung, tak tahu harus bicara apa, padahal pikiran sudah berkecamuk—sudah gumal macam kertas yang renyuk. Aku bingung, aku gelisah. Jantung ini rasanya sudah ingin loncat dari tempatnya, aku frustasi.
Aku mendengar bunyi dengan frekuensi rendah, membuat senyum tersungging di bibirku. Tapi ini senyum paling membingungkan, tak simetris dan tidak padu. Bukan berarti aku tidak senang, hanya saja aku bingung mencerna kata-katanya. Apa yang baru saja ia katakan? Apakah itu benar? Bagaimana bisa? Dan beribu-ribu pertanyaan lain didalam pikiranku.
Tetapi aku cukup bahagia mendengarnya, walaupun jadinya sesuatu ini kian menjadi. Kian menjadi seperti bakteri yang terus saja membelah diri, seperti virus yang terus saja bereproduksi, lalu akhirnya aku sendiri yang akan pusing tujuh keliling, mau kemana kan ini semua nanti?
Akhirnya sesuatu ini akan menjadi urusanku sendiri. Menahun aku biarkan semua ini berkembang biak. Aku bahkan tidak berusaha mencegahnya, tetapi ujung-ujungnya aku harus membuang ini semua, aku harus menuntaskannya. Sendirian.
Dan apabila aku harus sendirian, tolong beri aku kejelasan, bagaimana caranya berhenti?
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah lebih dari 31536000 detik aku duduk terdiam disini. Duduk terdiam disebuah jalanan lusuh yang ujung jalannya dihalangi tembok beton. Aku masih saja diam disini—menunggu. Menunggu tembok beton ini runtuh dengan sendirinya tanpa bisa berusaha. Aku tak punya apa-apa, palu atau ataupun yang bisa meruntuhkan tembok ini aku tak punya. Jadi aku hanya bisa menunggu keajaiban itu datang. Aku pun tak mau untuk berbalik badan dan mencoba melihat jalan yang lain. Yang aku inginkan hanyalah berjalan dijalan ini. Bodoh. Manusia lain sibuk lalu lalang dijalan yang lain tapi mengapa hanya aku saja yang masih diam disini? Aku kesepian.
Realistis. Sesuatu berbisik ditelingaku. Aku mengerti apa maksudnya. Tembok beton ini tak akan pernah runtuh jika kau tak berusaha, dan keajaiban itu omong kosong, keajaiban itu hanya nama lain dari kerja keras. Kerja keras apa yang kau lakukan selama ini? Cih, omong kosong. Apa yang kau lakukan disini hanya buang-buang waktu. Perkataan itu tampak begitu pesimis, aku percaya negeri dongeng. Aku percaya keajaiban. Tapi apakah sekarang aku hidup di negeri dongeng? Tidak. Ini adalah kenyataan.
Dan kini nyatanya, aku lelah..
Berada didalam suatu kerumunan tapi tak dapat melihat dan mendengar siapapun.
Aku hanya bisa melihat tembok beton itu yang berdiri angkuh dan dingin.
Tembok beton yang bahkan melihatku sepersekian sekon saja tidak.
Aku lelah..
Menjadi yang melihat tapi tak dilihat.
Tuhan.. Aku hanya ingin kembali ramai.
Tolong yakinkanlah kakiku untuk dapat melangkah mundur dan melihat jalan yang lain.
Dan tolong yakinkanlah ia juga bahwa suatu saat nanti ia pasti akan berpijak pada sebuah jalan yang lebih baik dan menyenangkan.
Hai..
Terima kasih sudah membuka surat ini. Asal kau tahu, aku melipatnya dalam keadaan gemetar seiring dengan detak jantung yang terus menghentak dengan keras memompa darah melalui pembuluh vena dan arteri. Mengantarkan jutaan rasa dan …
Ruangan putih tak berjendela. Begitu aku menyebutnya. Disini aku menjadi tuli—tak dapat mendengar riuh ribuan manusia disini. Dan juga menjadi buta—tak dapat melihat ribuan pasang mata yang melihat kearahku. Tapi samar-samar aku melihat sesuatu yang asing—suatu makhluk yang berdiri tepat diujung sana. Melihat kelain arah, lalu tersenyum. Senyum yang tertujukan untuk siapa aku tak tahu. Yang aku tahu, mataku telah memilihnya.
Temani aku yang kesepian. Intuisiku berkata. Tak ada sahutan, tak ada sapaan. Hanya ada diam. Kataku seperti lenyap entah dibawa kemana oleh sang udara. Seperti kehilangan media rambat. Sama halnya seperti aku yang kehilangan media untuk berpijak saat kusadari bahwa kau hanya ada satu..
Hanya ada satu..
Satu yang menggenapkan keganjilan ini.
Tempat yang aku pijak rasanya terlalu getas saat punggungmu itu perlahan mulai menjauh. Dan seketika aku sadari bahwa warnaku hilang satu.
Ruangan yang tadinya putih berubah menjadi hitam. Gelap. Tak ada apapun yang terlihat. Mungkin aku telah buta sepenuhnya.
Izinkan aku mengejar udara, memohon kepadanya untuk mengantarkan pesan singkatku kepada sang empunya. Pesan singkat untuk membuatnya sadar bahwa selama ini aku ada.
Entah kapan udara akan menyampaikannya, tapi aku harap suatu hari kau tahu. Bahwa aku, ada, ‘buta’ dan ‘tuli’.
Plakkk..
Rasanya seperti ditampar habis-habisan. Mimpi-mimpi indah yang aku bangun selama ini, sirna hanya dalam satu hentakan. Logikaku berjingkrak-jingkrak kegirangan. Tertawa senang karena ternyata argumennya memang benar. Karena pada hakikatnya hidup memang harus logis, realistis. Tapi apa salah jika kita mempunyai mimpi?
Tak ada yang bisa disalahkan. Logika ataupun mimpi sama-sama benar adanya. Mimpi tanpa logika itu seperti ingin membuat dunia baru dibawah lautan bebas. Berenang tanpa oksigen yang cukup. Tanpa makanan yang masuk ke dalam lambung. Hanya berenang bebas, bercengkrama dengan para penghuni lautan. Lalu apa yang terjadi pada akhirnya? Apakah kita akan mati? Ataukah malah hanyut terbawa arus dan tak mengenal daratan lagi? Dan logika tanpa mimpi itu seperti berjalan disebuah jalan lurus. Bergerak dengan penuh perhitungan. Tanpa berbelok kesana kemari karena terlalu sibuk memikirkan dampak darinya. Hipotesis-hipotesis yang membingungkan membuat semuanya terlalu rumit. Lalu pada akhirnya hanya bisa berdiam diri karena sibuk berpikir dengan logika. Namun jika mempunyai mimpi, kita akan optimis dan berpikir ‘siapa tahu ternyata di belokan itu terdapat beribu-ribu uang emas.’
Yang aku rasakan kini, aku bermimpi tanpa logika. Yang membuatku kini hanyut terbawa arus entah kemana. Aku terlalu lelah berenang dilautan bebas tanpa oksigen dan makanan. Tanpa perahu. Tanpa logika.
Dan pada akhirnya logikaku hanya bisa menertawakan. Tertawa hambar yang sama sekali tidak renyah. Sedangkan aku sibuk membersihkan puing-puing mimpi yang telah hancur berserakan karena realita yang telah menampakkan dirinya. Realita yang telah meluluh-lantahkan mimpi yang aku bangun sekian lama. Lalu aku yang lelah hanya bisa terdiam—pasrah dibawa arus entah kemana.
Nanti, tiap jam 2 siang, ga ada lagi yg ngebbm “re dimana?” Atau “li dimana?” “Hayuuu kantin sini” 😭😭😭
121212
Jam 00:00 lagi enak enaknya tidur, tiba tiba ada penyelundupan 2 orang masuk ke kamar aku dan memaksa aku untuk bangun. Yey! Dapet...
Hai..
Terima kasih sudah membuka surat ini. Asal kau tahu, aku melipatnya dalam keadaan gemetar seiring dengan detak jantung yang terus menghentak...